Kehamilan
merupakan hal yang sangat membahagiakan bagi pasangan suami istri
karena memang memiliki keturunan menjadi tujuan utama primer ketika
seseorang telah menikah. Namun, kadang kehamilan juga dapat menimbulkan masalah yang tidak di inginkan seperti kecemasan menjelang persalinan. Nah, adanya rasa cemas yang berlebihan dan terus-menerus dapat berakibat fatal yaitu resiko terjadinya pre-eklampsia dan eklampsia (kondisi hipertensi atau darah tinggi pada ibu hamil) apalagi jika terdapat riwayat hipertensi pada ibu maupun keluarga sehingga diperlukan penanganan yang tepat untuk mengurangi kecemasan yang dirasakan ibu hamil. Peran suami, ibu, dan orang-orang terdekat sangat dibutuhkan untuk hal tersebut.
Hipertensi pada kehamilan atau yang selanjutnya disebut pre-eklampsia merupakan kondisi komplikasi pada kehamilan yang sering menjadi penyebab kematian maternal, baik bagi maupun bagi janin. Pre-eklampsia disebutkan telah meningkatkan resiko kematian yang tinggi dengan angka kejadia 6% - 8% pada seluruh wanita hamil di RS di Indonesia. Kehamilan dengan pre-eklampsia dikelompokkan menjadi pre-eklampsia ringan dan berat. Kondisi kehamilan yang tergolong memiliki hipertensi atau resiko pre-eklampsia ringan apabila hasil ukur tekanan darahnya mencapai <140/90 mmHg, oliguria >300 ml/24 jam atau pemeriksaan dipstick >1+c, sedang pre-eklampsia berat atau disebut eklampsia apabila memiliki tanda gejala seperti tekanan darah mencapai 160/110 mmHg atau lebih, proteinuria >5g/24 jam atau dipstick >2+c, oliguria <500 ml/24 jam, serum kretanin meningkat, oedema paru atau sianosis. Eklampsia merupakan resiko yang mungkin terjadi pada kejadian preeklampsia dengan gejala berupa kejang-kejang pada ibu baik terjadi pada masa sebelum, saat, atau setelah melahirkan hingga dapat mengakibatkan koma bahkan kematian. Jurnal dengan judul “Pre-Eklampsia Berat di RSUD Bayu Asih Purwakarta” menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara pre-eklampsia pada kehamilan pertaam (primigravida), primigravida usia muda, umur kehamilan yang semakin tua, umur lebih dari 35 tahun, sosial ekonomi, umur kehamilan lebih dari 28 minggu, kehamilan ganda, dan hipertensi kronik.
Hipertensi pada kehamilan atau yang selanjutnya disebut pre-eklampsia merupakan kondisi komplikasi pada kehamilan yang sering menjadi penyebab kematian maternal, baik bagi maupun bagi janin. Pre-eklampsia disebutkan telah meningkatkan resiko kematian yang tinggi dengan angka kejadia 6% - 8% pada seluruh wanita hamil di RS di Indonesia. Kehamilan dengan pre-eklampsia dikelompokkan menjadi pre-eklampsia ringan dan berat. Kondisi kehamilan yang tergolong memiliki hipertensi atau resiko pre-eklampsia ringan apabila hasil ukur tekanan darahnya mencapai <140/90 mmHg, oliguria >300 ml/24 jam atau pemeriksaan dipstick >1+c, sedang pre-eklampsia berat atau disebut eklampsia apabila memiliki tanda gejala seperti tekanan darah mencapai 160/110 mmHg atau lebih, proteinuria >5g/24 jam atau dipstick >2+c, oliguria <500 ml/24 jam, serum kretanin meningkat, oedema paru atau sianosis. Eklampsia merupakan resiko yang mungkin terjadi pada kejadian preeklampsia dengan gejala berupa kejang-kejang pada ibu baik terjadi pada masa sebelum, saat, atau setelah melahirkan hingga dapat mengakibatkan koma bahkan kematian. Jurnal dengan judul “Pre-Eklampsia Berat di RSUD Bayu Asih Purwakarta” menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara pre-eklampsia pada kehamilan pertaam (primigravida), primigravida usia muda, umur kehamilan yang semakin tua, umur lebih dari 35 tahun, sosial ekonomi, umur kehamilan lebih dari 28 minggu, kehamilan ganda, dan hipertensi kronik.
Kejadian pre-eklampsia ini lebih sering
ditemukan pada masa awal dan akhir usia reproduktif yaitu usia remaja atau di
atas 35 tahun. Artinya akan lebih besar kemungkinan terjadi pre-eklampsia pada
ibu yang hamil dengan usia < 20 tahun karena mudah mengalami kenaikan
tekanan darah dan lebih cepat menimbulkan kejang. Sedangkan umur lebih dari 35 tahun juga
lebih rentan untuk terjadinya peningkatan insiden hipertensi kronis seiring
dengan bertambahnya usia, disebutkan pada jurnal “Gambaran Epidemiologi
Kejadian Preeklampsia/Eklampsia Di Rsu Pku Muhammadiyah Yogyakarta Tahun
2007–2009” seperti yang disebutkan juga pada jurnal “Pre-Eklampsia Berat di
RSUD Bayu Asih Purwakarta” bahwa rentang usia reproduksi yang aman bagi wanita
untuk hamil dan melahirkan yaitu 20-35 tahun. Angka kejadian kehamilan dan
persalinan yang mengalami komplikasi dan kematian mencapai 11 % berasal dari
ibu yang masih remaja seperti yang telah dijelaskan diatas karena ibu muda
lebih mudah mengalami kecemasan berkaitan dengan ketidaksiapan menghadapi persalinan.
Selain faktor usia, pre-eklampsia juga memliki faktor resiko lainnya pada hasil
penelitian dalam 2 jurnal jurnal yang disebutkan sebelumnya yaitu riwayat
penyakit terdahulu, sehingga wanita yang memiliki penyakit hipertensi sebelum
hamil beresiko tinggi mengalami pre-eklampsia, dan ibu hamil yang pernah
mengalami pre-eklampsia pada kehamilan sebelumnya beresiko 20% lebih
tinggi mengalami pre-eklampsia lagi pada kehamilan berikutnya. Faktor
selanjutnya yaitu pemeriksaan antenatal (ANC), disebutkan bahwa ibu yang
teratur melakukan pemeriksaan hamil baik ke bidan, dokter ataupun klinik lebih
dari 4 kali dapat mengurangi resiko pre-eklampsia berat karena resiko dapat
terdeteksi sejak awal sehingga akan mendapat penanganan yang sesuai dan tepat.
Kasus Pre-eklampsia ataupun eklampsia dapat terjadi sebelum dan sesudah
melahirkan dengan prosentase 75% terjadi sebelum melahirkan dan 25% terjadi
setelah melahirkan sehingga diperlukan pengawasan kasus sejak dini. Peran pelayanan
kesehatan sangat penting disini dengan meningkatkan peran kesehatan di
Puskesmas dan Poliklinik ibu hamil yang bertujuan untuk mengenali semua faktor
resiko. Pengawasan kasus tersebut dapat dilakukan dengan cara menyaring semua
kehamilan terutama pada primigravida, ibu hamil dengan usia <20 tahun, dan ibu hamil
resiko tingga terhadap pre-eklampsia dan eklampsia yang menyatakan gangguan
visus, nyeri kepala, rasa panas di muka, nyeri epigastrum, mual dan muntah
ataupun kejang untuk kemudian diberikan pelayanan khusus dan diminta untuk melakukan
pemeriksaan kehamilan secara rutin sejak awal trimester I (3 bulan pertama)
kehamilan hingga persalinan.
Banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kasus/kejadian
pre-eklampsia dan eklampsia yang juga mempengaruhi bagaimana tindakan
penanganan pada ibu hamil dengan pre-eklampsia dan eklampsia. Namun kasus
pre-eklampsia masih belum menunjukan penurunan angka kejadian yang signifikan
sehingga peran dari berbagai pihak yaitu keluarga terutama suami dalam
mendukung istrinya menjalani kehamilan dengan bahagia dan pihak pelayanan
kesehatan perlu meningkatkan upaya pencegahan. Pencegahan dapat dilakukan
dengan memberikan pendidikan kesehatan atau penyuluhan bagi ibu hamil maupun
calon ibu hamil mengenai pre-eklampsia dan eklampsia pada kehamilan,
meningkatkan mutu pelayanan antenatal di Puskesmas dan Poliklinik ibu hamil
dengan melakukan pelatihan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan petugas
kesehatan dalam mengenali kasus pre-eklampsia dan eklampsia, selain itu juga
dapat dilakukan secara berkala pemeriksaan tekanan darah, proteinuria,
menentukan tinggi fundus uteri untuk melihat perkembangan janin, pemeriksaan
biometri janin dan kesejahteraan janin dengan NST (Non Stres Test).
Daftar
Pustaka
Arianti
I. Sukma, Djannah S.Nur, Oktober 2010, “Gambaran
Epidemiologi Kejadian Preeklampsia/EklampsiaDi Rsu Pku Muhammadiyah Yogyakarta
Tahun 2007–2009” . Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Volume 13. No.4
Asfriyati, Lubis R. Masniari, Resmi A. Suciati, Faktor Yang Berhubungan Dengan Preeklampsia Pada Kehamilan Di Rsu Muhammadiyah Sumatera Utara Medan Tahun 2011-2012.
Fibriana A. Ika, Setiawan H, Palarto B, 2007, “Pre-Eklampsia Berat di RSUD Bayu Asih Purwakarta”. Artikel Publikasi.
Fikawati S, Yulianti L, Agustus 2008, “Pre-Eklampsia Berat di RSUD Bayu Asih Purwakarta”. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. Volume 3, No. 1
Norwitz E. R, dkk, 1999 dalam Roeshadi, R. Haryono, 2006, “ Upaya Menurunkan Angka Kesakitan dan Angka Kematian Ibu pada Penderita Pre-eklampsia dan Eklampsia. USU Repository
AJOG Volume 183, 5. July 2000 dalam Roeshadi, R. Haryono, 2006, “ Upaya Menurunkan Angka Kesakitan dan Angka Kematian Ibu pada Penderita Pre-eklampsia dan Eklampsia. USU Repository

